Beautiful Plants For Your Interior
Pembelajaran 7
Mari Menyimak Video Berikut ini
1. Ancaman Keanekaragam Hayati
Perhatikan gambar diatas!
Gambar tersebut menunjukkan aktivitas pembukaan lahan hutan dengan alat berat dan truk pengangkut tanah. Kondisi ini menggambarkan salah satu ancaman terbesar terhadap keanekaragaman hayati, yaitu kerusakan dan hilangnya habitat akibat deforestasi. Penebangan dan penggalian tanah dalam skala besar merusak ekosistem alami yang menjadi tempat hidup berbagai spesies tumbuhan dan satwa. Akibatnya, populasi flora dan fauna berkurang drastis, rantai makanan terganggu, serta keseimbangan ekosistem terguncang. Selain itu, kerusakan hutan juga memperparah perubahan iklim melalui pelepasan karbon, meningkatkan risiko banjir dan longsor, serta mengurangi sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat sekitar. Berdasarkan berbagai kajian, berikut adalah poin-poin ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati:
- Alih Fungsi Lahan, seringkali aktivitas manusia yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian malah mengancam keanekaragam hayati. alih fungsi lahan hutan hujan tropis menjadi perkebunan, pertanian, dan perumahan. Kegiatan ini mengakibatkan berkurangnya habitat beberapa makhluk hidup yang hidup di hutan hujan tropis dan musnahnya spesies tertentu. Selain itu, intensifikasi pertanian yang mengandalkan input pupuk dan pestisida kimia secara masif mencemari tanah dan air, yang selanjutnya menurunkan kualitas habitat. Dampak kumulatif dari perubahan lahan ini telah menempatkan jutaan spesies pada risiko kepunahan, mengikis kemampuan ekosistem untuk menyediakan layanan penting yang menjadi penopang kehidupan di Bumi (IPBES, 2019).
- Eksploitasi Berlebihan (Overexploitation), contoh eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh manusia dan mengancam berkurangnya keanekaragaman adalah penangkapan ikan (baik legal maupun ilegal) yang melebihi kemampuan pemulihan alami populasi. Hal ini telah mengakibatkan penurunan drastis pada banyak spesies. Eksploitasi berlebih mengacaukan struktur jaring-jaring makanan dan keseimbangan ekosistem (Maxwell et al., 2020). Selain itu, penangkapan satwa untuk diperjualbelikan, misalnya pada trenggiling yang diburu untuk obat tradisional (Ratna et al., 2021).
- Perubahan Iklim, ancaman lain datang dari perubahan iklim. Kenaikan suhu global, perubahan pola curah hujan, dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang semakin tinggi memaksa spesies untuk bermigrasi atau beradaptasi dengan sangat cepat (Yuliani, 2023). Akibatnya, banyak spesies yang tidak mampu mengikuti kecepatan perubahan iklim, misalnya pada puncak musim makan karena adanya perubahan iklim, maka tidak sesuai dengan ketersediaan makanan. Hal ini meningkatkan risiko kepunahan secara masif (Maxwell et al., 2020).
- Spesies Invasif, perdagangan dan perjalanan global secara tidak sengaja memindahkan spesies asing ke ekosistem baru. Spesies invasif ini kemudian menjadi pesaing, pemangsa, atau pembawa penyakit yang sangat efisien bagi spesies asli yang tidak memiliki pertahanan alami terhadapnya, sehingga mendorong penurunan populasi spesies lokal (IPBES, 2019).
Jika ancaman-ancaman ini tidak segera diatasi, maka laju kepunahan spesies akan terus meningkat jauh lebih cepat dari laju alami, dan pada akhirnya merugikan manusia sendiri.
2. Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Upaya pelestarian keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat ditunda. Keanekaragaman hayati bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga fondasi kehidupan yang menopang kesehatan, pangan, ekonomi, dan stabilitas ekosistem. Untuk itu, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah, keterlibatan masyarakat, dukungan dunia pendidikan, serta kemajuan sains dan teknologi dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya hayati. Dengan menjaga keanekaragaman hayati, kita tidak hanya melestarikan warisan alam, tetapi juga memastikan keberlanjutan hidup generasi sekarang dan mendatang.
Penelitian Strassburg et al. (2020) dalam Nature mengidentifikasi 15% lahan dunia yang direstorasi dapat menyelamatkan 60% spesies terancam. Studi CBD (2022) menunjukkan bahwa perluasan kawasan lindung efektif mengurangi laju kepunahan spesies sebesar 30%. Analisis Watson et al. (2018) dalam Science Advances membuktikan kawasan lindung yang dikelola adat memiliki efektivitas konservasi dua kali lebih tinggi daripada kawasan konvensional. Terakhir, IPBES (2019) menekankan bahwa integrasi koridor ekologis antar kawasan lindung meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap fragmentasi habitat. Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk pelestarian keanekaragaman hayati dibagi menjadi dua, yaitu pelestarian exsitu dan insitu.
- Pelestarian Secara In Situ, merupakan pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan di tempat hidup aslinya (habitatnya). Pelestarian ini dilakukan pada mahluk hidup yang memerlukan habitat khusus atau mahluk hidup yang dapat menyebabkan bahaya pada kehidupan mahluk hidup lainnya jika dipindahkan ke tempat lain. Contoh taman nasional dan cagar alam. Indonesia saat ini memiliki 30 taman nasional dan ratusan cagar alam sehingga flora dan fauna asli Indonesia memiliki kesempatan baik untuk tetap lestari. Yuk menjelajah beberapa taman nasional dan cagar alam yang ada di Indonesia!, Klik gambar berikut untuk menonton videonya!
2. Pelestarian Ex Situ, adalah pelestarian keanekaragaman hayati (tumbuhan dan hewan) dengan cara dikeluarkan dari habitatnya dan dipelihara di tempat lain. Pelestarian secara ex situ dapat melakukan cara-cara sebagai berikut:
- Kebun koleksi
- Kebun plasma nutfah
- Kebun raya
- Penyimpanan dalam kamar-kamar bersuhu dingin
- Kebun binatang.
Melalui kerja sama dengan lembaga konservasi internasional, telah dilakukan pengembangan kawasn konservasi menjadi cagar biosfer yang merupakan kawasan dengan ekosistem terestrial dan pesisir yang melaksanakan konservasi biodiversitas melalui pemanfaatan ekosistem yang berkelanjutan (Artanti, 2020). Cagar biosfer yang ada di Indonesia antara lain , Kebun Raya Cibodas , Kebun Raya Purwodadi, Penangkaran Buaya di Asam Kumbang (Medan) dan Taman Safari Indonesia. Yuk menjelajah beberapa cagar biosfer sebagai bagian dari pelestarian ex situ di Indonesia!, Klik gambar tersebut untuk menonton videonya!
