Beautiful Plants For Your Interior
Pembelajaran 5
Mari Menyimak Video Berikut!
Table of Contents
Keterangan Warna
Oranye : Fase Pembelajaran
Merah: Indikator CSP
Abu-abu: Keterangan materi ajar
Hijau: Indikator KBK
Ungu muda: Indikator Sikap Ilmiah
Biru muda: Indikator Literasi Lingkungan
Capaian Pembelajaran (CP)
Pada akhir fase E, siswa memiliki keterampilan berpikir kritis, sikap ilmiah, dan literasi lingkungan serta kemampuan menciptakan solusi atas permasalahan-permasalahan berdasarkan isu lokal, nasional, atau global terkait pemahaman keanekaragaman makhluk hidup, dan peranannya, virus dan peranannya, inovasi teknologi Biologi, komponen ekosistem dan interaksi antar komponen serta perubahan lingkungan.
Mengenal Lebih Dekat Hutan Mangrove Rembang
Pernahkah kalian ke Hutan Mangrove Rembang?
Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, penopang ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan mangrove di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menjadi benteng alami terhadap abrasi dan intrusi air laut, sekaligus habitat bagi berbagai biota. Dengan garis pantai sepanjang ±63,5 km, wilayah ini sangat rentan terhadap kerusakan pesisir sehingga hutan mangrove menjadi penyangga yang vital. Sayangnya, ekosistem ini tidak luput dari ancaman berupa alih fungsi lahan, pembangunan tambak, serta tekanan aktivitas manusia.
Sejarah pengelolaan mangrove di Rembang menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan saat ini merupakan hasil rehabilitasi. Sejak 1970-an, Desa Pasarbanggi telah menjadi pusat penanaman mangrove dengan luasan awal hanya sekitar 3 hektar dan kini berkembang menjadi ±60 hektar. Pemerintah daerah mendukung pelestarian ini melalui Peraturan Daerah No. 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah yang menekankan konservasi. Peraturan Desa Pasarbanggi No. 03 Tahun 2014 bahkan memberikan sanksi ekologis berupa kewajiban menanam 100 pohon mangrove bagi pihak yang merusak lingkungan. Kebijakan ini memperlihatkan upaya serius menjaga kelestarian pesisir berbasis masyarakat.
Kajian biodiversitas dari beberapa penelitian mengungkap komposisi spesies mangrove di Rembang. Perhatikan Gambar 2 tentang jenis mangrove yang ditemukan di Hutan Mangrove Rembang berikut,
Wicaksono & Muhdin (2015) mencatat adanya dominasi Rhizophora mucronata pada hampir semua tingkatan pertumbuhan, diikuti Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Avicennia marina, serta beberapa jenis lain. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) menunjukkan nilai rendah (<1,5), menandakan bahwa ekosistem ini masih homogen dan rentan terhadap degradasi. Sementara itu, Saputro dkk. (2013) melaporkan keberadaan 11 spesies mangrove, terdiri atas 6 spesies mayor (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Avicennia marina, Sonneratia alba, Nypa fruticans), 2 minor (Excoecaria agallocha, Scyphiphora hydrophyllacea), dan 3 asosiasi (Ipomoea pes-caprae, Pandanus sp., Terminalia catappa). Namun, dominasi Rhizophora menyebabkan rendahnya nilai keanekaragaman (H’ < 1,0). Temuan ini menunjukkan keberhasilan reboisasi jenis tertentu, tetapi keanekaragaman vegetasi masih terbatas.
Fungsi ekologis mangrove tetap krusial. Ekosistem ini tempat bagi ikan, kepiting, udang, kerang, dan burung air. Dengan demikian, meski jumlah spesies vegetasi relatif sedikit, mangrove Rembang tetap menopang biodiversitas fauna pesisir yang berperan penting bagi mata pencaharian masyarakat. Selain aspek ekologi, hutan mangrove juga memberikan nilai ekonomi yang signifikan. Firmansyah (2018) menekankan bahwa jasa ekosistem mangrove meliputi penyediaan sumber daya hayati, fungsi regulasi lingkungan, serta manfaat kultural. Nilai ekonomi muncul baik secara langsung, misalnya sebagai sumber ikan, udang, dan kepiting, maupun tidak langsung sebagai pelindung tambak dari abrasi. Lebih jauh, mangrove juga menjadi basis pengembangan ekowisata yang kini semakin diminati.
Pengembangan ekowisata di Desa Pasarbanggi, seperti “Jembatan Merah Mangrove,” menjadi contoh nyata integrasi konservasi dan ekonomi lokal. Kawasan ini memungkinkan wisatawan menyusuri jalur kayu di tengah hutan hingga ke bibir pantai. Inisiatif ini dikelola oleh kelompok masyarakat Sido Dadi Maju yang tidak hanya menanam dan merawat mangrove, tetapi juga menyediakan bibit, menjaga kebersihan, serta mengelola wisata. Soeprobowati dkk. (2020) menyebutkan bahwa model pengelolaan berbasis masyarakat menjadikan Pasarbanggi sebagai desa ekowisata percontohan nasional.
Meski demikian, tantangan masih ada. Alih fungsi lahan, abrasi, dan dampak perubahan iklim global tetap mengancam. Kerusakan mangrove di Jawa Tengah, termasuk Rembang, masih cukup luas dengan kategori rusak sedang hingga berat. Oleh karena itu, strategi pengelolaan berkelanjutan sangat diperlukan, meliputi konservasi ekologis dengan memperkaya jenis vegetasi, pemberdayaan masyarakat melalui ekowisata dan usaha pembibitan, serta penguatan regulasi dan kolaborasi antar pihak.
Secara keseluruhan, mangrove di Kabupaten Rembang adalah contoh nyata bagaimana interaksi manusia dan alam melahirkan tantangan sekaligus peluang. Dari kondisi yang hampir punah, kini ekosistem ini kembali pulih dan memberikan manfaat berlapis: melindungi pesisir, menopang biodiversitas, menunjang ekonomi, hingga menjadi daya tarik wisata. Upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi harus terus diperkuat agar Kabupaten Rembang dapat menjadi model keberhasilan konservasi pesisir berbasis komunitas di Indonesia.
