Pelestarian Keanekaragaman Hayati

     Keanekaragaman hayati dapat mengalami penurunan, baik karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Bencana alam seperti kebakaran hutan merupakan salah satu faktor alam yang mengakibatkan kerusakan ekosistem yang dapat mengancam berkurangnya keanekaragaman hayati. Secara umum, aktivitas manusia memiliki andil besar terhadap berkurangnya keanekaragaman hayati Indonesia. Seringkali aktivitas manusia yang bertujuan untuk meningkatkan pereko- nomian malah mengancam keanekaragam hayati, misalnya alih fungsi lahan hutan hujan tropis menjadi perkebunan, pertanian, dan perumahan. Kegiatan ini mengakibatkan berkurangnya habitat beberapa makhluk hidup yang hidup di hutan hujan tropis dan musnahnya spesies tertentu.

    Keanekaragaman hayati memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan dan kesehatan manusia. Menurut Samedi (2015), kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia merupakan sumber ketahanan pangan dan kesehatan yang vital bagi umat manusia. Selain itu, penelitian oleh Raveloaritiana dan Wanger (2024) menunjukkan bahwa diversifikasi pertanian meningkatkan profitabilitas finansial, keanekaragaman hayati, dan layanan ekosistem secara signifikan dalam jangka panjang. Lebih lanjut, laporan WHO (2025) menekankan bahwa keanekaragaman hayati mendukung layanan ekosistem penting seperti kesuburan tanah, pengendalian hama alami, penyerbukan, dan regulasi air, yang semuanya berkontribusi pada sistem pangan yang berkelanjutan.

      Selain sebagai sumber pangan, keanekaragaman hayati juga menyediakan bahan baku untuk industri obat-obatan. Menurut laporan dari IUCN (2018), banyak spesies tumbuhan dan hewan yang digunakan dalam pengembangan obat-obatan modern. Contohnya, cemara Sumatra (Taxus sumatrana) mengandung senyawa kimia antikanker, paclitaxel, yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Unas, 2020). Dengan melestarikan keanekaragaman hayati, kita dapat memastikan ketersediaan sumber daya ini untuk pengembangan obat-obatan di masa depan.

    Keanekaragaman hayati juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Menurut laporan dari LCDI (2025), keanekaragaman hayati Indonesia berperan penting dalam menciptakan keseimbangan ekosistem dan menopang pembangunan berkelanjutan. Selain itu, penelitian oleh Raveloaritiana dan Wanger (2024) menunjukkan bahwa diversifikasi pertanian meningkatkan profitabilitas finansial dan layanan ekosistem dalam jangka panjang. Dengan demikian, pelestarian keanekaragaman hayati juga berarti investasi dalam pertumbuhan ekonomi. Dari perspektif lingkungan, keanekaragaman hayati berperan dalam menjaga kualitas udara dan air. Menurut laporan WHO (2025), keanekaragaman hayati mendukung layanan ekosistem penting seperti regulasi air dan kesuburan tanah. Selain itu, laporan dari PBB (2025) menekankan bahwa konservasi dan restorasi ruang alam serta keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya sangat penting untuk membatasi emisi dan beradaptasi terhadap dampak iklim.

    Contoh lain  kegiatan manusia yang mengancam berkurangnya Keanekaragaman adalah penangkapan satwa untuk diperjualbelikan. Trenggiling adalah salah satu hewan yang diburu untuk obat tradisional. Selain itu, masih banyak aktivitas manusia yang dapat menurunkan keaneakaragaman hayati seperti penyeragaman varietas tanaman dan ras hewan budidaya, penebangan hutan dan penggunaan pestisida. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk tetap menjaga kelestarian keanekaragaman hayati seperti hutan lindung, cagar alam dan taman nasional. Untuk mengatasi kelangkaan tanaman dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan sedangkan untuk mengatasi kelangkaan hewan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi kloning (Ratna et al., 2021).

    Studi CBD (2022) menunjukkan bahwa perluasan kawasan lindung efektif mengurangi laju kepunahan spesies sebesar 30%. Analisis Watson et al. (2018) dalam Science Advances membuktikan kawasan lindung yang dikelola adat memiliki efektivitas konservasi dua kali lebih tinggi daripada kawasan konvensional. Terakhir, IPBES (2019) menekankan bahwa integrasi koridor ekologis antar kawasan lindung meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap fragmentasi habitat. Penelitian Strassburg et al. (2020) dalam Nature mengidentifikasi 15% lahan dunia yang direstorasi dapat menyelamatkan 60% spesies terancam. Lebih lanjut, FAOda (2020) melaporkan teknik agroforestri di Indonesia dan Brasil berhasil meningkatkan keanekaragaman burung dan serangga penyerbuk sebesar 25-50%.

    Studi Fleischman et al. (2020) dalam Global Environmental Change mendokumentasikan praktik tebang pilih masyarakat Dayak mengurangi kerusakan hutan 75% dibandingkan perusahaan kayu. Akhirnya, laporan FAO (2022) menyatakan sistem pollinator-friendly farming meningkatkan produktivitas kopi dan kakao 15-25% sambil melestarikan lebah asli. Bank Benih Global Svalbard kini menyimpan 1,2 juta sampel benih tanaman pangan (Crop Trust, 2023), menjamin ketahanan pangan terhadap krisis iklim. Riset Hoban et al. (2021) dalam Biological Conservation mengembangkan genetic rescue untuk populasi badak Jawa yang mengalami inbriding. Lebih inovatif, proyek Biobank Indonesia (LIPI, 2021) memetakan keragaman genetik 500 spesies endemik untuk program pembiakan selektif. Analisis Dinerstein et al. (2019) dalam Science Advances membuktikan pajak karbon dapat mendanai 140% kebutuhan konservasi global. Terkini, laporan OECD (2023) merekomendasikan penghapusan subsidi perusak lingkungan senilai $500 miliar/tahun sebagai pendanaan alternatif.

     Upaya pelestarian keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat ditunda. Keanekaragaman hayati bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga fondasi kehidupan yang menopang kesehatan, pangan, ekonomi, dan stabilitas ekosistem. Untuk itu, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah, keterlibatan masyarakat, dukungan dunia pendidikan, serta kemajuan sains dan teknologi dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya hayati. Dengan menjaga keanekaragaman hayati, kita tidak hanya melestarikan warisan alam, tetapi juga memastikan keberlanjutan hidup generasi sekarang dan mendatang.

     Contoh lain kegiatan manusia yang mengancam keanekaragaman hayati adalah penangkapan satwa untuk diperjualbelikan. Trenggiling adalah salah satu hewan yang diburu untuk obat tradisional. Kegiatan manusia ini tentulah mengancam populasi trenggiling. Selain itu, masih banyak aktivitas manusia yang dapat menurunkan keaneakaragaman hayati seperti penyeragaman varietas tanaman dan ras hewan budi daya, penebangan hutan, dan penggunaan pestisida. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk tetap menjaga kelestarian keane- karagaman hayati, seperti pengelolaan hutan lindung, cagar alam, dan taman nasional. Untuk mengatasi kelangkaan tanaman dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan, sedangkan untuk mengatasi kelangkaan hewan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi kloning (Niken, et.al., 2023).

     Usaha pelestarian sumber daya alam hayati merupakan tanggung jawab bersama dan harus dilakukan secara ketat, karena sudah banyak jenis tumbuhan dan hewan endemik telah berada di ambang kepunahan. Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk pelestarian keanekaragaman hayati dibagi menjadi dua, yaitu pelestarian exsitu dan insitu.

  1. Pelestarian Secara In Situ, merupakan pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan di tempat hidup aslinya (habitatnya). Pelestarian ini dilakukan pada mahluk hidup yang memerlukan habitat khusus atau mahluk hidup yang dapat menyebabkan bahaya pada kehidupan mahluk hidup lainnya jika dipindahkan ke tempat lain. Contoh taman nasaional dan cagar alam. Indonesia saat ini memiliki 30 taman nasional dan ratusan cagar alam sehingga flora dan fauna asli Indonesia memiliki kesempatan baik untuk hidup terus , tentu apabila peraturan pemerintah ditaati
  2. Pelestarian Ex Situ, adalah pelestarian keanekaragaman hayati (tumbuhan dan hewan) dengan cara dikeluarkan dari habitatnya dan dipelihara di tempat lain. Pelestarian secara ex situ dapat melakukan cara-cara sebagai berikut:
  • Kebun koleksi
  • Kebun plasma nutfah
  • Kebun raya
  • Penyimpanan dalam kamar-kamar bersuhu dingin
  • Kebun binatang.
  • Dari hasil kerja sama dengan lembaga konservasi internasional, telah dilakukan pengembangan kawasn konservasi menjadi cagar biosfer yang merupakan kawasan dengan ekosistem terestrial dan pesisir yang melaksanakan konservasi biodiversitas melalui pemanfaatan ekosistem yang berkelanjutan. Cagar biosfer yang ada di Indonesia antara lain Kebun Raya Cibodas, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Batu, dan Taman Nasional Wakatobi (Artanti, 2020).
  1.